Pukul Balik Oligarki: Selamatkan Rakyat dan Semesta

LBH Padang – Selama tahun 2021, jumlah pencarian keadilan yang mengadu sebanyak 162 kasus. LBH Padang menangani 30 kasus di Sumatera Barat yang terdiri dari: isu buruh 5 kasus, disabilitas 4 kasus, kekerasan seksual 6 kasus dan sumber daya alam 15 kasus. Sebanyak 162 orang menerima layanan konsultasi dengan penerima manfaat 1.500 KK di isu tanah, 150 KK di isu tambang, 3 lokasi perampasan ruang hidup di Mentawai, 2 desa menjadi korban energi kotor dan mendampingi 3 nagari di Pesisir Selatan karena kerusakan lingkungan.  

Baca Juga : Tolak Izin PKKNK di Mentawai, Koalis Penyelamat Hutan Mentawai Lakukan Aksi di Kantor Dishut Sumbar

Selama Pandemi Covid-19 kita selalu dihadapkan dengan satu kata yakni darurat. Darurat dijadikan alasan kita mesti mengubah segala hal didalam lini kehidupan kita. Namun, kami tidak hanya menemukan kedaruratan kesehatan saja di Sumatera Barat. Kami juga menemukan banyak kedaruratan lainnya. Sumatera Barat darurat kekerasan seksual. Sumatera Barat darurat perampasan lahan dan agraria. Sumatera Barat darurat kriminalisasi rakyat dan pejuang HAM dan lingkungan. Sumatera Barat darurat inklusifitas bagi penyandang disabilitas. Sumatera Barat darurat bencana dan kerusakan lingkungan. Sumatera Barat darurat keadilan bagi rakyat. Sumatera Barat darurat keberagaman. Sumatera Barat darurat perampasan ulayat. Sumatera Barat darurat pemberantasan korupsi. Tahun 2021 sedang menggambarkan kepada kita semua kondisi faktual kedaruratannya yang dihadapi Sumatera Barat saat ini.

Rakyat yang kehilangan tanah dan kehidupan, rakyat yang dipenjara karena berjuang, rakyat menjadi korban kekerasan seksual, rakyat yang didiskriminasi dan stigmatisasi karena kondisi disabilitasnya, rakyat yang tidak bisa menjalankan ibadahnya dengan baik, masyarakat adat yang kehilangan ulayatnya, rakyat yang kehilangan hutannya, rakyat yang tidak mendapatkan keadilan dan rakyat-rakyat yang menjadi korban bencana akibat kerusakan alam dan lingkungannya sudah menjadi penderitaan yang mesti dipikul sendirian oleh rakyat. Lalu dimana negara dan pemerintahan kita??? Mereka masih sibuk membicarakan pertumbuhan ekonomi, mereka sibuk lobby sana-sini untuk investasi, mereka sibuk untuk bertransaksi diatas penderitaan rakyatnya, mereka bahkan tak menghiraukan partisipasi rakyatnya sendirLalu sebagai rakyat biasa kita mesti apa?

Disaat oligarki tidak hanya membuat manusia menderita namun dapat menghantarkan kita pada kepunahan. Perubahan iklim dan krisis iklim telah perlahan-lahan kita rasakan. Pesisir-pesisir mulai abrasi dan tenggelam dalam diam. Mereka masih sibuk ingin merusak hutan dan menebangnya tanpa ampun. Mereka masih ingin mempertahankan energi kotor. Mereka masih sibuk merusak gambut. Mereka masih sibuk merampas hak-hak rakyat. Mereka masih sibuk mengkriminalisasi rakyat. Mereka masih sibuk dengan mitos investasi yang seolah-olah mensejahterakan itu. Ketika mereka yang masih sibuk seperti itu, maka pilihan kita hanya satu saat ini. Memukul balik oligarki. Selamatkan kehidupan rakyat dan semesta. Bangkitlah perjuangan rakyat hingga kita menang. Menang dari keserakahan, menang dari kerakusan, menang dari ketamakan dan menang dari godaan cuan belaka. Sesungguhnya tak ada hak asasi yang diberi namun hanya ada hak asasi yang diperjuangkan. Bangkit dan bersatulah rakyat. Sampai jumpa dimedan juang berikutnya ditahun 2022. Hidup rakyat.

Lahan dan Ruang Hidup Di Caplok, Perwakilan Masyarakat Silabu Mengadu ke Komnas HAM Sumba

Lahan dan Ruang Hidup Di Caplok, Perwakilan Masyarakat Silabu Mengadu ke Komnas HAM Sumba

Pasca aksi damai di Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Barat, koalisi penyelamatan hutan mentawai bersama 2 (dua) orang perwakilan masyarakat Silabu

Pukul Balik Oligarki: Selamatkan Rakyat dan Semesta

Pukul Balik Oligarki: Selamatkan Rakyat dan Semesta

Selama tahun 2021, jumlah pencarian keadilan yang mengadu sebanyak 162 kasus. LBH Padang menangani 30 kasus di Sumatera Barat yang

Polri : Berikan Keadian Bagi Mak Dasni Yang Sudah 11 Tahun Menuntut Keadilan

Polri : Berikan Keadian Bagi Mak Dasni Yang Sudah 11 Tahun Menuntut Keadilan

Memalukan jika 11 tahun sudah mencari keadilan namun dipatahkan dengan alasan berkas telah hilang yang tentunya sangat tidak adil bagi